
Cerita ini ku persembahkan untuk dia ...
Yang tak pernah bosan memandangku
Yang menerimaku apa adanya dan mencintaiku dengan tulus
Yang tak juga lelah membimbingku menjalani kehidupan yang pernah hampir tidak ada untukku
Terimakasih pada Allah yang telah menemukan kita
Dengan keadaan yang tak mungkin orang lain bisa mengerti
Tapi semua menjadi pemberian Allah
Dengan segala Kebesaran-Nya menyatukan umatnya yang berbeda
Setelah hari ini
Kuakan lebih sayang dan setia mendampingimu
Selama masa itu masih menjadi milik kita
Ku hanya akan rela berpisah jika Allah memintamu kembali
Terimakasih Ya Allah yang telah menyelamatkan kita dari apapun yang sudah menerjang dan menjadi bagian yang harus kita hadapi
Terimakasih Ya Allah yang tetap memperkuat genggaman kita dan meneguhkan hati kita disaat gelombang kuat menghantam rumah mungil kita
Terimakasih Ya Allah yang telah memberi kita waktu selama ini dan menghadiahi kita buah hati yang manis
Terimakasih Ya Allah yang memberikan Mukjizat hingga aku masih merasakan detak jantungmu dan lembutnya bijaksanamu
Terimakasih Ya Allah atas segala limpahan berkah yang tak mungkin bisa kita hitung dan balas
Sujud kita berdua menjawab semua pinta dan do'a yang pernah kita panjatkan...
Untukmu... I H D L...










Kebersamaanku dengan Han tak terasa sudah menginjak tahun yang ke 11 dan delapan tahun sudah usia rumah tangga kami.
Kebahagian mengisi kehidupan kami, sosoknya yang sederhana dan bijaksana menjadi daya tarik untuk tidak menolak ajakannya menikah 8 tahun yang lalu.
Hemm… kukagumi suamiku yang senantiasa berpenampilan rapi, bersih dan juga lembut hatinya.
Aku banyak berhutang budi pada Han, dia yang senantiasa penuh perhatian dan kasih sayang membimbingku menjadi seorang ibu yang baik bagi anak kami dan istri yang dapat membahagiakannya.
Sifat kami memang bertolak belakang dan anehnya perbedaan itu justru makin membuat kami semakin hari semakin manjaga dan saling berbagi kasih sayang. Hal itu membuat anak kami semata wayang ikut merasakan kebahagiaan kami.
Cobaan dalam rumah tangga inipun juga tak ada habisnya menghantam, tetapi Han tetap memegang erat genggamannya tanpa mau melepasku.
Sementara akupun juga tak pernah beranjak pergi dari sisinya ketika angin dan badai dari luar begitu hebatnya ingin melepaskan dekapan kami berdua.
“Han…jika suatu saat ada yang ingin memisahkan kita, aku hanya minta kau tetap tak kan melepaskan dekapanmu,” kalimat itu selalu aku ucapkan berulang-ulang jika aku merasa takut.
“Din…apapun yang terjadi aku berjanji tidak akan melepasmu, karena aku terlalu sayang dan mencaintaimu,” janji dan kalimat itu selalu dia bisikkan dikala malam sebelum tidur.
Hari-hariku masih sama seperti dulu ketika kami baru pacaran dan tidak ada yang berubah sedikitpun hingga kami menikah. Manjaku dan sifat kekanak-kanakku di ladeninya dengan sabar dan aku menikmati suasana itu. Yah sebagai anak pertama aku memang banyak mengalah kepada adik-adikku, sehingga sosok Han mengisi bagian yan kurang dalam hidupku.
Hari ini disela hariku yang padat aku masih memikirkan kado apa yang pantas ku berikan padanya di hari ulang tahu perkawinan kami. Aku berpikir sesuatu yang special dan bukan berupa benda seperti yang biasa di lakukan pasangan lain.
„Din… ,“ sapa suara di belakangku.
„Heiii… Naj how are you doing today,“ sambutku kepada Naj teman sekantorku.
“Kamu sedang berpikir apa? Kenapa kamu serius banget..,“ ujarnya dengan bahasa Indonesianya versi melayu yang kental.
„Aku sedang memikirkan hadiah buat hari spesial kami nih…, but I didn’t find something special in my list,“ lanjutku sambil memainkan rambutku yang memang sudah pendek itu.
“Yahh… terserah kamu sajalah.. mana yang bagus,” jawabnya tanpa memberi masukan yang lain.
Ku kenal Naj di tempat kerjaku yang baru dan entah sejak pertama datang aku sudah merasa cocok sekali. Apalagi kedatangan Effendy sebagai rekan kerja yang baru ikut menyemarakkan persahabatan ini. Sudah cocok banget kalo soal ngrumpi nasib perusahaan di sela makan siang kami.
Ku pandang keluar kaca jendela di kantor dan dari tempatku terlihat jelas Merlion yang menjadi maskot negri Singapura. Aku bersyukur bosku memberiku tempat kerja dengan pemandangan yang sungguh cantik dan bisa meregangkan urat saraf otakku jika pekerjaan menumpuk.
Lalu lalang Ferry dari Singapur Batam begitu juga sebaliknya sudah menjadi pemandanganku setiap hari. Bahkan kapal pesiar dengan design yang cantik sudah menjadi koleksi album fotoku jika kapal itu sedang sandar di pelabuhan yang bisa kulihat dari tempat kerjaku.
Kali ini ku tatap kapal pesiar Virgo yang sungguh cantik dan juga besar sekali badan kapalnya. Ku teringat akan janji Han dulu ketika baru menikah, bahwa dia ingin membawaku berbulan madu yang ke dua naik kapal pesiar. Tetapi sayangnya aku sungguh penakut dan selalu menolak usulnya.
Ku biarkan lamunanku siang itu kembali ke perjumpaanku dengan Han di negri kincir angin 12 tahun yang lalu. Sesekali aku tersenyum mengingat dimana saat itu dia sibuk sekali mencuri perhatianku sementara aku tidak ada perasaan dan tanggapan apa-apa kepadanya.
12 tahun yang lalu aku dikirim oleh perusahaan dimana aku bekerja untuk mengikuti pelatihan di negri Belanda bersama 2 orang rekan dari departemen yang berbeda.
Udara di Amsterdam waktu itu sungguh nyaman buat ukuran orang Indonesia dan pertemuanku dengan Han terjadi ketika kami berempat tengah sarapan pagi di restaurant hotel tenpat kami menginap di daerah Roterdam.
Kunikmati sarapan pagi itu dengan pembicaraan mengenai agenda training dan juga kejadian lucu di bandara Schiphol Holland kemarin. Sesekali Han memandangiku dan berusaha ingin ikut dalam pembicaraan kami bertiga. Han adalah wakil dari perusahaan yang memberi sponsor pelatihan tersebut untuk wilayah Indonesia.
„Bu Dini … dari depertemen mana ya?“, tanyanya ketika itu memotong pembicaraan kami bertiga.
„Saya dari departemen mesin kapal pak Han“, jawabku singkat.
„Bagaimana Bu…sudah pernah ikut training semacam ini?“, tanyanya lagi kepadaku yang waktu itu sungguh gak ada mood berbicara banyak dengan orang yang baru aku kenal.
„Hemm.. belum..sebab saya termasuk baru pak di perusahaan kami“, lanjutku lagi sambil membetulkan tempat dudukku.
„Sebentar ya pak Han…, saya mau ambil susu segar dulu. Eh Ziz kamu mau gak? Sekalian aku ambilkan,“ kataku sembari berdiri dan bertanya kepada Aziz yang saat itu tengah lahap dengan sarapan paginya. Ku lihat Aziz menganggukkan kepalanya tanda mau.
Tiba-tiba Han berdiri dan menawarkan diri,“Ibu duduk saja…saya yang ambilkan…boleh kann?“
Ku duduk kembali dan saling berpandangan dengan Aziz yang saat itu juga tersenyum melihat kerut di keningku menandakan tidak suka. Sifat kerasku dan manjaku memang tidak bisa di sembunyikan, dan aku juga bukan orang yang suka di tolong. Kecuali kalo gak sadar atau pingsan di jalan.
„Udah duduk aja..kan lumayan ada yang ngambilin,“ celetuk Aziz menyuruhku duduk.
„Emang gue gak punya kaki apa ya..?, lagian aku males pagi-pagi ngladenin orang banyak tanya,“ kataku kesal dan melanjutkan sisa omelet yang masih ada di piringku.
Aku bukan tipe „morning girl“ yang bisa diajak basa basi di pagi hari. Setiap hari kalo bangun pagi aku harus duduk berlama-lama dulu membiarkan diriku sendiri menerima pagi itu. Di kantor banyak yang tidak menerima sapaan pagiku dan mengeluh jika aku melewati mereka tanpa suara apapun.
Kulihat Han datang dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat 4 gelas susu segar.
“Silahkan Bu…,” katanya sambil menyuguhkan segelas susu segar kepadaku.
“Terimakasih pak,” jawabku singkat dan langsung meneguk habis.
Cuek pikirku waktu itu, kubiarkan dia melihat aksi brutalku meminum susu segar dengan suara berisik.
„Ayo…kayaknya kita harus cepat siap di lobby deh, sebelum mobil jemputan datang,“ ajakku kepada mereka untuk segara berkemas dan menunggu di depan lobby.
Pelatihan hari itu sungguh menarik dan di awali dengan memperkenalkan produk serta top client yang memakai produk tersebut dan kemudian di lanjutkan dengan materi yang bersifat tehnik. Agenda 10 hari selama pelatihan akan cukup padat dan juga melelahkan setiap harinya.
Sore hari selepas pelatihan kami diantar oleh mobil perusahaan untuk kembali ke hotel untuk membersihkan diri. Karena malamnya diisi acara makan malam dengan direktur atau acara jalan-jalan untuk mengenal negri kincir angin Holland lebih dekat.
Malam itu aku memakai sweater putihku lengan panjang dan celana hitam serta memakai make up sederhana saja. Ku tahu bahwa dimalam itu udara akan dingin walaupun saat itu musim panas di Holland.
Aku duduk di sebelah orang yang selalu aku hindari, siapa lagi kalo bukan Han. Selama jamuan aku berusaha untuk tidak masuk dalam pembicaraan yang dia awali danhanya menjadi pendengar yang baik. Mungkin saja dia tahu kalo aku tidak suka…atau mungkin saja ini orang memang keras kepala dan bandel.
„Kok diam saja bu Dini…apakah hidangannya kurang berkenan?“, tegurnya mengawali obrolan.
Duh..makanan ludes gitu kok di bilang tidak berkenan sih, ini orang lucu dan lugu banget.
Ku jawab dengan pelan,” enggak pak…hanya capek saja dan dingin sekali ya…?”
“Bu Dini..panggil saya cukup Han saja, jangan pakai pak…mau kan?”, ucapnya sambil tersenyum sok akrab.
Baru kali ini aku dengar ada orang yang gak mau di hormati dan di panggil pak. Menurutku sih gak sopan dan akupun juga baru kenal, apalagi aku memang tidak terbiasa memanggil seseorang yang baru aku kenal semalam dengan panggilan nama saja.
„Wahh.. jangan dong pak, gak enak saya..nanti di pikir gak sopan,“ tolakku lagi.
Aku sadar bahwa Han dari keluarga dengan latar pendidikan Eropa. Kulihat dari logatnya berbicara bahasa Belanda sejak tadi pagi dengan direktur perusahaan Belanda itu betul-betul bahwa kehidupan gaya eropanya sangat melekat sekali.
„waschh..wosshhh…weschhh…schroggg,“ batinku berbicara menirukan bahasa yang terasa asing di telingaku.
Hi..hi..hi… lucu banget lihat mereka berbicara dalam bahasa Belanda dengan mulut yang monyong-monyong mengikuti vokalnya serta dengan intonasi dan suara kayak orang kecekik lehernya, kubiarkan otakku bermain dengan banyolanku sendiri.
„Heeiii…Non…,“ sapa Aziz di sebelahku sambil menepuk pundakku dimana aku tengah melamun.
„Tuhh…. di panggil meneer Han…sono cepetan,“ kata Aziz dengan menunjuk ke arah Han.
„Duh ngapain lagi nih orang, kok gak suka lihat orang lain tenang dikit kek,“ ujarku pada Aziz yang cuman bisa meringis saja.
„Iya pak, ada apa ya..?“, tanyaku sambil berjalan menghampiri Han.
“Kesini Bu…lihat pemandangan di luar…ramai orang jogging di malam yang terang,” ujarnya sambil menggapai pundakku dan menunjuk ke taman kota di daerah Roterdam.
“Eh iya ya…padahal di sini sudah jam 9 malam ya pak? kok masih terang ya..?”,ucapku terheran-heran.
Dia menceritakan bahwa di Belanda atau di belahan Eropa pada musim panas siang memang sangat panjang di bandingkan malam.
Jadi biarpun jam 9 malam matahari masih ada dan akan tenggelam pada jam 10 malam.
Sembari mendengarkan cerita Han, aku nikmati segarnya udara malam yang terang itu dengan menghirup udara dalam-dalam serta kubiarkan oksigen mengisi ruang paru-paruku.Tak terasa aku sudah berdiri lama di situ dengan Han.
„Pak Han kembali gabung mereka yook,“ ajakku lagi.
„Panggil saya Han saja dan kalo boleh saya juga akan memanggil Dini kepada Ibu,“ ucapnya mengingatkan lagi.
„Hemmm ok … tapi butuh waktu ya..? saya belum terbiasa..,” jawabku sambil tersenyum
Acara makan malam itu di tutup dengan jalan-jalan keliling kota Roterdam dengan mengendarai mobil. Karena penatnya akupun tertidur di mobil van milik perusahaan yang mengantar kami berempat kembali ke hotel.
Ku terbangun ketika ada yang menepuk pipiku dari belakang. Kubuka mataku dan masih berkedip-kedip berusaha melihat dengan jelas siapa di depanku.
„Hah..!“, pekikku
„Han…oh..dah sampai ya,“ tak sadar ku sebut namanya seketika itu tanpa embel-embel pak di depannya. Ku biarkan tanganku menyambut tangannya untuk membantuku turun dari mobil van yang tinggi itu.
„Terimakasih ya? sudah di bangunin,“ ucapku dan berlalu begitu saja menutupi maluku.
„Ok all good night dan sampai besok ya? jangan telat sarapan paginya,” teriakku kepada Made, Aziz dan Han yang saat itu masih ingin ngobrol di lobby hotel.
Aku sudah tidak kuat menahan mata yang sudah ngantuk berat ini dan setelah membersihkan badan aku langsung naik tempat tidur. Kubiarkan tubuhku berlindung di balik selimut tebal hotel yang hangat dan wangi itu.
“Hemmmm semoga mimpi indah....,” desahku dengan tetap mengingat halusnya tangan Han menepuk pipiku. Dan akupun tertidur pulas….ZZzzzzzZZZZ…
***** cerita bersambung ya *****